Mengenal Ampel Denta Surabaya
Aqiqah Surabaya 2021 - Raden Rahmat atau Sunan Ampel Surabaya merupakan salah satu Wali Songo
penyebar Islam di timur Pulau Jawa. Tepatnya di Kota Surabaya. Makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kota. Bahkan
hampir setiap hari peziarah berdoa di makamnya di kawasan Ampel Denta.
“Sebagai panutan, banyak umat muslim yang berziarah ke Sunan Ampel. Baik
saat malam Jumat, malam Jumat Legi, bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri
hingga hari-hari biasa,” kata Pegiat Sejarah Kawasan Ampel Surabaya
M.Khotib Ismail dijumpai di Rumahnya Jalan Ampel Gang Menara, Selasa 7
April 2019.
Dia mengisahkan Raden Rahmat berasal dari Champa menuju ke Jawa, yakni
kerajaan Majapahit. Pada saat menemui Prabu Brawijaya, dia diterima
dengan baik. Karena sikapnya yang baik, bijaksana, dan pintar dalam
beragama, ia diberi kesempatan untuk menyebarkan agama Islam.
“Banyak orang Trowulan yang kemudian menjadi santri dan pengikut Raden Rahmat,” kata dia.
Ia menjelaskan gelar ‘Raden’ yang diberikan kepada Sunan Ampel pada masa
itu karena disegani pengikutnya. Sehingga dengan prestasi itu, dia
mendapatkan tanah dari kerajaan Majapahit.
“Tanahnya, ya di Surabaya yang sekarang ini, namanya Ampel Denta. Saya tidak tahu berapa luas tanahnya waktu itu,” kata Khotib.
Pada tahun 1677 daerah Ampel sangat luas. Bahkan diperkirakan hingga
perbatasan dengan Gresik. Khotib menjelaskan yang bisa menjadi tolok
ukur adalah adanya Kali Surabaya yang saat ini sudah tidak ada dan kali
Pegirian.
“Dulu masih belum ada Kalimas. Kemungkinan Kalimas itu buatan zaman
pemerintahan Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem
Daendels, 1808-1811),” kata dia.
Dia juga menjelaskan dari beberapa surat kabar dan buku yang tersebar seperti Oud Surabaya, History of Java dan masih banyak lagi menyebutkan bahwa Raden Rahmat waktu itu membawa tiga ribu keluarganya di Jawa.
“Nah, dari jumlah keluarga yang banyak itu, menjadi cikal bakal Raden
Rahmat membentuk perkampungan dan pembuatan infrastruktur. Ini terjadi
pada abad ke -15,” katanya.
Konsep yang dibuat Raden Rahmat berbeda dengan kota maupun kabupaten
lainnya. Misalnya tentang penataan masjid agung, alun-alun kota atau
kabupaten, dan kantor pemerintahan yang lokasinya berdekatan.
“Di Surabaya tidak seperti itu. Raden Rahmat menciptakan konsep yang berbeda,” lanjut Khotib.
Ia menyayangkan tidak banyak cerita sejarah tentang Raden Rahmat Sunan
Ampel. Masalahnya sedikit literatur yang menjelaskan kisahnya. Bisa
dibilang Sunan Ampel Surabaya itu miskin manuskrip literasi dan juga
miskin artefak.
"Kalaupun ada tulisan tentang beliau, kebanyakan ditulis setelah dua abad kematian Sunan Ampel," kata Khotib.
Menurutnya, sejauh ini belum ada penulis yang bertemu langsung dengan
Raden Rahmat Sunan Ampel. Sehingga banyak versi yang menceritakan salah
satu dari Sembilan wali penyebar Islam di Jawa.
Sumber:https://jatimnet.com/sepenggal-sejarah-kawasan-ampel-surabaya

Comments
Post a Comment